Bagi produsen mobil, lebih mudah membuat mobil listrik dari nol daripada mengubah mobil konvensional menjadi mobil listrik. Banyak Hal yang harus di sesuaikan dan itu tidak mudah.
Hal itu pula yang terjadi pada Toyota RAV4 EV. Bekerjasama dengan produsen mobil mewah listrik asal California, Tesla Motors, Toyota mengubah SUV RAV4 bensin menjadi bertenaga listrik.
Jika Tesla berurusan dengan sistem penggeraknya, maka para insinyur Toyota berupaya untuk membuat mobil bisa meluncur lebih jauh dengan cara menurunkan drag coefficient dari 0.31 jadi 0.30.
Semakin kecil coefficient of drag, semakin mudah mobil menembus hambatan udara, yang berdampak pada efisiensi energi lebih baik dan ujungnya jarak tempuh lebih jauh. Untuk mencapai target itu, insinyur-insinyur Toyota melakukan beberapa langkah.
Yang pertama dilakukan adalah mencari kombinasi ban dan wheel paling aerodinamis, demikian external trim dan lampu.
Langkah selanjutnya, redesain bagian-bagian body termasuk grille baru, spion, dan spoiler belakang. Di kolong, dilakukan ubahan total. Tangki bensin, sistem exhaust, dan sistem transmisi di pensiunkan. Diganti dengan baterai Lithium-ion dari Tesla yang bentuknya lebih smooth.
Roof rack juga pensiun, karena terbukti memangkas jarak tempuh secara signifikan. "Sebagai penggemar sepeda, saya mohon maaf soal roof rack. Tapi sebagai pakar aerodinamika, saya bilang, taruh sepedamu dibagian belakang mobil. Dengan melepas roof rack, kami mengurangi frontal area dan mengurangi hambatan udara," kata Aerodynamics Development Engineer Toyota, Stefan Young.
Hasilnya adalah mobil yang lebih ringan, lebih aerodinamis yang bisa melaju lebih jauh. Hasil uji Toyota, jarak tempuh setiap kali isi ulang sekitar 150km. Cukup mengesankan untuk sebuah SUV
RSS Feed
Twitter
22.49
Unknown

Posted in 
0 komentar:
Posting Komentar